Beasiswa Jepang: Sebuah Penantian #005

11 Januari 2017

Bodoh. Bodoh sekali aku. Bisa-bisanya alamat email yang kutuliskan dibaca keliru oleh staf Kedubes Jepang. Alamat emailku memang membingungkan; harus kuakui. Aku mengetik seisi formulir aplikasiku tempo hari dengan HURUF KAPITAL. Alias yang juga kugunakan sebagai bagian dari alamat emailku yang panjangnya na’udzu billah itu: ideal1st kutulis sebagai IDEAL1ST dan telah terbaca sebagai idealist.

Buntutnya panjang karena ternyata berkasku kurang. Staf Kedubes telah mengirim email follow-up kepada para aplikan yang berkasnya kurang, termasuk aku, sejak lima hari yang lalu untuk melengkapi berkas masing-masing. Apesnya, aku tak kunjung menerima email tersebut. Untungnya, di lima hari yang lalu itu juga pihak Kedubes mengirimiku SMS untuk mengecek email. Karena tak menerima email dimaksud, akupun berinisiatif menghubungi Kedubes via email juga. Tak ada balasan juga. Dua hari yang lalu, aku kembali menghubungi Kedubes; kali ini via telepon. Di sinilah masalahnya terungkap. Staf Kedubes yang bertugas mengirim email follow-up kepada peserta ternyata telah salah membaca email yang kutulis di formulir pendaftaran.

Nasi sudah menjadi bubur. Dan ini adalah perubahan kimia. Perubahan kimia umumnya tak mengenal kata mundur. Titimangsa pengiriman kelengkapan berkas susulan adalah kemarin. Ya, kemarin. Aku sudah mengirim berkasku sejak dua hari lalu, segera setelah pihak Kedubes mengirim ulang email tersebut ke alamatku yang benar. Apalah daya, yang kita bicarakan ini adalah hard copy, bukan soft copy. Kita juga sedang berbicara tentang pengiriman dokumen antarpulau. Berkasku baru tiba di Kedubes siang ini. Semoga ada keajaiban.

27 Januari 2017

Hari ini adalah waktu pengumuman hasil seleksi berkas Beasiswa Teacher Training Monbukagakusho 2017. Aku kembali teringat kebodohanku lebih dari dua pekan yang lalu itu. Ah, tidak. Kebodohan itu dimulai lebih jauh lagi: saat aku mengirim berkas ke Kedubes. Formulirnya kuisi, kutempeli foto, baru kemudian kugandakan empat rangkap. Ini manuver bodoh. Harusnya aku mengerti bahwa penggandaan empat rangkap itu sudah semestinya menuntut empat foto asli yang tertempel di formulir. Jadi, seharusnya algoritmaku begini: isi formulir, gandakan empat rangkap, baru terakhir tempeli dengan pasfoto. Ah… Kenapa harus kuingat-ingat lagi? Ya karena memang pelajarannya sangat penting.

Hari ini adalah hari yang semestinya kunanti-nantikan. Namun, gara-gara kesalahanku itu, aku sudah bersiap mental sekiranya aku tak lolos seleksi berkas. Bahkan, sungguh ajaib bila ternyata aku bisa lolos. Berkas tak lengkap sampai lewat deadline, bagaimana mungkin pantas bermimpi lolos seleksi? Demikian hujatku pada diri sendiri. Kuserahkan semuanya pada Allah SWT. Semuanya. Kali ini benar-benar semuanya. Runtuh semua kepercayaan diriku. Remuk oleh hal-hal kecil yang gagal kuantisipasi. Sungguh benar lafal dzikir yang sering kita ulang-ulang itu: la hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim. Tiada daya dan tiada upaya selain bersama Allah Sang Tuhan yang Mahatinggi lagi Mahaperkasa.

Meski sadar aku tak pantas bermimpi, sebagai manusia yang merasa sudah berupaya hingga ke titik ini, tentu aku masih berusaha optimis. Dan bukankah agamaku juga melarang berputus asa dari kasih sayang Tuhan? Terlepas dari segenap alpa dan bodohku, aku percaya bahwa keajaiban itu ada. Dan sekiranya kali ini aku lolos, akan kuingat keajaiban ini seumur hidupku sebagai prasasti kenangan bahwa Tuhan memang ada dan Dia Mahakuasa mengecualikan kemustahilan bagi siapapun yang dikehendakiNya.

Tanpa terasa, sudah lewat waktu ‘Isya. Namun, pengumumannya belum juga terbit di situs resmi Kedubes Jepang. Kelelahan bekerja ditambah usia yang semakin tua pun telah semakin menggerus staminaku. Biar besok saja kuperiksa kembali situsnya. Aku harus tidur.

28 Januari 2017

Waktunya mengecek kembali situs Kedubes Jepang. Apapun hasilnya, aku sudah pasrah. Terjadi keajaiban ataupun tidak, bagiku Tuhan tetap dan selalu ada. Aku bisa bangun kembali pagi ini saja sudah merupakan sebuah keajaiban mengingat begitu banyak variabel di luar kendaliku yang harus bekerja secara simultan agar aku tetap hidup selama tidur semalam dan kemudian dapat bangun lagi pagi ini. Keajaiban itu sesungguhnya sangat dekat dan sangat berlimpah. Namun, karena ia terjadi setiap femtodetik setiap hari–bahkan lebih sering lagi–tanpa kusadari, egoku yang penuh dosa ini sering luput mensyukuri.

Pekan lalu, aku menerima pesan singkat dari Kedubes yang menginformasikan perihal nomor seleksiku: U08. Saat pengumuman seleksi berkas nanti dan seleksi-seleksi selanjutnya (jika lulus terus), daftar peserta yang lulus hanya akan disampaikan dalam bentuk daftar nomor seleksi, bukan daftar nama, demi menjaga privasi dan tentunya perasaan seluruh peserta seleksi. Pagi ini kuperiksa kembali situs resmi Kedubes Jepang, terutama laman informasi beasiswanya. Benar saja; sudah updated. Telah ada pengumuman hasil seleksi berkas di sana. Kubuka pengumuman itu dan kucari nomor seleksiku.

Tertera di sana: U08. Orang yang berkasnya tidak lengkap itu, yang telat melengkapi berkas sesuai titimangsa itu, nomor seleksinya tertera di sana. Lolos seleksi berkas. Ajaib. Ma sya’a-llahu walhamdu lillah. Segera kubaca instruksi selanjutnya: konfirmasi kehadiran ujian tulis. Peserta yang lolos seleksi berkas diminta mengirim email konfirmasi kehadiran ujian tulis sesuai format subjek yang diberikan. Kukirimkan email konfirmasi sesuai instruksi sambil terus berucap syukur di dalam hati atas keajaiban ini. Ini baru bagian terakhir dari episode pembuka. Masih banyak tahapan yang menantiku ke depannya. Salah satunya ini: beli tiket ke Makassar dan mengatur itinerary sehemat mungkin selama di sana untuk ikut ujian tulis. Bismillah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: