Bye Manjaro, Welcome Zorin

Setelah lebih dari 7 tahun menggunakan Manjaro 32-bit dan hampir 3 tahun menahan diri untuk tidak instal ulang sejak Manjaro resmi menghentikan dukungan terhadap arsitektur 32-bit, saya akhirnya memutuskan untuk beralih ke Zorin OS, sebuah sistem operasi GNU/Linux berbasis Ubuntu asal Irlandia yang konon ditujukan bagi para pengguna atau calon pengguna GNU/Linux entry-level yang sudah telanjur familiar dengan Windows.

Gbr. 1. Tampilan desktop Xfce bawaan Zorin 15.2 Education Lite

Saya bukanlah seorang distro-hopper namun ada cukup banyak pengalaman saya belakangan ini yang pada akhirnya membuat saya harus berpindah ke lain hati.

Irrelevansi Arsitektur 32-Bit

Dengan berakhirnya dukungan Manjaro terhadap arsitektur 32-bit, saya sebagai salah seorang penggunanya otomatis terjebak dalam tempurung (in)kompatibilitas. Firefox saya stuck di versi 55. Mau update via pacman, reponya sudah tutup. Mau paksain lewat AUR, environment sistemnya masih stuck di 32-bit. Bertahun-tahun saya pakai Firefox 55 apa adanya.

Beberapa bulan ini, semakin banyak saja website dan cloud service yang bilang bahwa peramban saya sudah ketinggalan jamban jaman. WordPress, Google Docs, Adobe Spark, the list goes on and on and on. Tempurung ini membunuh saya pelan-pelan. Bertahan di 32-bit semakin hari semakin tampak seperti sebuah kebodohan ketimbang sebuah pilihan. Ini baru dari sisi peramban.

Berakhirnya dukungan Manjaro terhadap arsitektur 32-bit sama artinya dengan tidak ada lagi software baru yang praktis dan aman untuk saya instal di sistem yang saya pelihara. Saya hanya bisa compile from source atau cari binary siap pakai dari AppImage. Bagaimana kalau saya ingin instal Android Studio yang juga secara resmi telah diumumkan tidak mendukung arsitektur 32-bit lagi? Ya habis lah sudah.

Dominasi Ubuntu di Rimba Distro

Selama 7 tahun belakangan ini, anak-anak saya alhamdulillah tumbuh semakin besar dan pintar. Mereka sudah sangat penasaran akan berbagai hal sehingga sudah perlu diberi akses terkendali ke gerbang ilmu pengetahuan tertua setelah buku dan perpustakaan: internet dan komputer.

Berhubung saya bukan sultan apalagi taipan yang bisa beli laptop tiap bulan tanpa harus keringat dingin mengatur cashflow, saya harus merakit sendiri laptop bekas untuk anak-anak saya gunakan. Laptopnya saja rakitan, apalagi OS-nya. Katakan tidak pada Windows. Linux is my only choice.

Awalnya saya menginstal Ubuntu Budgie untuk laptop anak-anak saya yang mereka terima dari bapak saya (kakek mereka). Laptop baru ini berarsitektur 64-bit. Saya pilihkan Ubuntu karena hardware support-nya yang luar biasa tokcer. Saya pilih Ubuntu rasa Budgie karena saya suka filosofi dan efisiensi desktop-nya, berangkat dari pengalaman pribadi menggunakan Budgie di laptop Manjaro 32-bit saya. Anak-anak saya langsung jatuh hati sama Linux berkat laptop Ubuntu pertama mereka ini.

Selang beberapa bulan kemudian, giliran adik saya yang menghibahkan laptop “rusak”nya kepada anak-anak saya, sebuah laptop Toshiba Satellite lawas yang sudah rusak HDD-nya. Saya kemudian mencoba memasang HDD dari laptop lama saya ke laptop hibahan ini. HDD lama saya itu berisi Ubuntu 12.04 LTS. Ternyata masih bisa di-upgrade ke 16.04 LTS. Setelah berhasil upgrade tanpa kendala berarti padahal instalasinya sudah lama sekali inilah preferensi saya terhadap Ubuntu melonjak naik.

Gbr. 2. Firefox dan terminal di laptop Ubuntu 16.04 anak saya

Kira-kira setahun kemudian, datang lagi limpahan laptop bekas dari bapak saya untuk anak-anak saya. Karena laptop Ubuntu Budgie sudah resmi dipakai istri saya dan laptop Ubuntu standar sudah de facto lebih sering dipakai oleh anak pertama saya, laptop limpahan terakhir ini pun saya niatkan untuk anak kedua saya. Karena spek laptopnya jauh lebih minim daripada dua laptop sebelumnya, saya harus cari alternatif lain yang lebih ringan daripada Ubuntu. Singkat cerita, saya pilih Bodhi Linux.

Gbr. 3. Terminology dan PCManFM di laptop Bodhi Linux anak saya

Melihat pengalaman saya beberapa kali meng-upgrade laptop bekas untuk dihidupkan kembali selama 2 tahun belakangan ini, saya merasa sudah siap untuk melakukan hal yang sama ke workstation saya. Namun, being an overthinker that I always am, saya memutuskan untuk riset kecil-kecilan dulu. Mulanya saya mau upgrade ke Manjaro 64-bit. Namun, saya masih belum 100% pulih dari apa yang saya alami dengan Manjaro 32-bit lalu. Saya putuskan mempertimbangkan alternatif lain. Solus dan Elementary sempat saya pertimbangkan sebelum akhirnya saya mengecek Zorin.

Zorin tidak pernah menarik bagi saya sebelumnya karena saya tidak suka Windows sebagai sistem operasi dan Zorin justru dipasarkan sebagai Windows replacement. Di sisi lain, saya menaruh hormat pada para distro maintainer yang memperhatikan detail visual distro mereka demi kenyamanan para penggunanya. Kyrill dan Artyom Zorin adalah dua di antara mereka yang melakukan ini dengan sangat berhasil menurut saya.

Gbr. 4. Konsistensi visual tray icons dan keindahan wallpaper bawaan Zorin OS 15.2

Ketika akhirnya saya coba menginstal Zorin ke flash drive dan mencobanya selama beberapa hari, saya agak terkejut mendapati bahwa ternyata Zorin juga berbasis Ubuntu. Manjaro boleh melesat di ranking DistroWatch selama 2 tahun terakhir, namun kita tetap harus mengakui bahwa Ubuntu-lah yang sebenarnya merajai klasemen DistroWatch selama ini: 5 dari 10 distro teratas di DistroWatch diakui berbasis Ubuntu.

Distro Berorientasi Pendidikan

Setelah bermantap hati untuk menggunakan Ubuntu atau turunannya sebagai sistem operasi 64-bit saya, faktor lain yang tidak kalah penting adalah kelengkapan piranti lunak bawaan. Sebagai guru sekolah formal sekaligus praktisi homeschooling, pendidikan adalah bagian utama dalam kehidupan saya. Sebagai pengguna Linux, dukungan piranti lunak berorientasi pendidikan dalam sebuah distro merupakan nilai plus yang sangat besar bagi saya.

Zorin sepertinya tidak menjadikan versi Education-nya sebagai salah satu daya tarik utama. Tidak hanya itu, Zorin ternyata juga menyediakan versi Lite dari versi Education-nya, which is a huge attracting factor for me, yang sepertinya juga kurang begitu gencar dipromosikan. Entah karena hal-hal berbau pendidikan memang biasanya kurang menjual atau karena ceruk peminat piranti lunak pendidikan mungkin kurang profitable, yang pasti keberadaan “Zorin Education” memang tidak terdeteksi oleh DistroWatch sekalipun. Oleh karena itu, saat saya mendapati bahwa Zorin OS juga tersedia dalam edisi Education versi Lite, saya tidak perlu berpikir dua kali untuk men-download dan segera mencobanya.

Gbr. 5.5. Daftar aplikasi pendukung kegiatan belajar-mengajar yang disediakan Zorin

Singkat cerita, Zorin menawarkan apa-apa yang saya inginkan dan yang saya perlukan dari sebuah sistem operasi 64-bit. Berbasiskan Ubuntu, manajemen piranti lunak dan pembaharuan sistem Zorin pun sama-sama bisa diandalkan lagi berkelanjutan. Selain itu, saya juga jadi belajar banyak hal baru dari proses menginstal ulang laptop saya dengan Zorin, mulai dari apa itu UEFI sampai bagaimana menginstal OS tanpa merusak file home. Dalam kesempatan selanjutnya insya Allah akan saya bahas mengenai cara instalasi Zorin dengan mode UEFI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: