Telaah Tafkiriyyah: Di mana Allah?

Setiap kali memasuki bulan Sya’ban, sebagian umat Islam di Indonesia selalu terlibat dalam perdebatan sengit tentang di mana Allah berada. Kubu pengikut Ust. Yazid (kita sebut saja Yazidi supaya ringkas) mengklaim bahwa Allah berada di atas sana, di langit. Sementara kubu pengikut habaib (kita sebut saja Habibi, supaya ringkas juga) mengklaim bahwa Allah ada tanpa tempat. Mana yang benar?

tl;dr: Yang benar itu, Allah ada di luar segenap makhlukNya, termasuk al-‘Arsy sekalipun.

Jika ingin jawaban panjang, mari kita kaji argumen kedua belah pihak. Kita mulai dari kubu Yazidi.

Pegangan kaum Yazidi dalam menyatakan bahwa “Allah ada di langit” tentunya adalah perkataan Ust. Yazid. Ust. Yazid sendiri dalam beberapa kesempatan tampaknya kesulitan dalam membedakan antara frase “di atas langit” dan “di langit”. Berikut ini bukti videonya (semoga masih bisa diakses):

Ust. Yazid: “Allah ada di atas langit”

Ust. Yazid: “Allah ada di langit”

Kesulitan Ust. Yazid ini sudah barang tentu diturunkan pula ke murid-muridnya, tidak hanya yang awam, bahkan yang sudah masyhur digelari “ustadz” pun terkena dampaknya.

Ust. Subhan: “Allah ada di langit”

Kesulitan ini sesungguhnya dapat dimengerti sebab dalam bahasa Arabnya, keduanya diwakili oleh frase “في السماء”. Namun, berhubung mereka ceramah dalam bahasa Indonesia, maka seharusnya ambiguitas ini dapat dihindari dengan menggunakan istilah yang konsisten. Mana ini yang mau disampaikan? “Allah ada di langit” atau “Allah ada di atas langit”? Sebab, bagi telinga kita, ini dua hal yang bisa berbeda jauh maksudnya.

Untuk menjawab hal ini, alhamdulillah, sudah ada Ust. Muhammad Abduh Tuasikal (hafizhahullahu ta’ala wa baraka fi hayatihi) yang telah dengan sangat gamblang menjelaskan bahwa yang BENAR adalah “Allah di atas langit” BUKAN “Allah di langit”.

Ust. Tuasikal: “Allah ada di ATAS langit”
https://rumaysho.com/910-di-manakah-allah-2.html

Sampai sini semoga sudah dapat didamaikan antara yang meyakini “Allah ada di atas langit” dan yang meyakini “Allah ada tanpa tempat”. Ini hanya masalah persepsi. Sama seperti kisah “Gajah dalam Gelap”, baik Yazidi maupun Habibi sebenarnya sama-sama meyakini bahwa Allah berada di luar jangkauan penginderaan makhlukNya. Bedanya, kaum Yazidi menyatakan hal ini dengan “Allah ada di (atas) langit” sedangkan kaum Habibi memilih “Allah ada tanpa tempat”.

Untuk menguatkan pendapat Ust. Tuasikal sekaligus pendapat kaum Habibi, mari kita lihat kitab العقيدة الوسطية (al-‘Aqidah al-Wasithiyyah) karya Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah. Beliau ini adalah ulama mujahid penganut tasawwuf yang karya-karyanya sering dirujuk oleh Ust. Yazid, kaum Yazidi, dan salafiyyun secara umum. Jadi, saya rasa cukup relevan untuk mewakili kedua kubu.

aqeedah_wasitiyah_cover

Dalam kitab tersebut, bab 1 “Iman kepada Allah”, pasal 5 “Termasuk dalam Iman kepada Allah bahwasanya Allah Berada di Atas (Tujuh-penj.) Langit, Tinggi di Atas SinggasanaNya”, ayat 157, Syaikhul Islam menyatakan bahwa di antara bagian iman kepada Allah adalah:

Keimanan kepada apa-apa yang telah Allah kabarkan, telah mutawatir dari RasulNya SAW, dan telah berijma’ para salaful ummah atasnya, yaitu bahwasanya Dia SWT berada di atas* seluruh langit di atas** singgasanaNya, tinggi di atas segenap ciptaanNya, dan Dia SWT bersama mereka di manapun mereka berada dengan mengetahui apapun yang mereka kerjakan.

Berikut teksnya:

aqidah-wasitiyah-157

Sedikit catatan, pada frase di atas (*) seluruh langit, Syaikhul Islam menggunakan kata فوق fawqa yang kalau dalam bahasa Inggris kita menyebutnya above. Kata depan fawqa ini maksudnya sesuatu itu berada di atas namun tidak berpijak, berbeda dengan على ‘ala yang masih memiliki dua kemungkinan: di atas dengan berpijak atau di atas tanpa berpijak. Ini secara bahasa lho ya. Saya tidak sedang menjelaskan sifat Allah dengan takyif, saya hanya menjelaskan maksud kata depan fawqa secara harfiah.

Di sini kita dapat melihat bahwa Syaikhul Islam sendiri tidak pernah menyatakan bahwa “Allah itu ada di langit”; beliau justru menjelaskan bahwa “Allah itu ada di atas seluruh langit”.

Lanjut ke frase di atas (**) singgasanaNya. Nah, apa yang dimaksud Ibnu Taymiyyah dengan frase على عرشه ‘ala ‘arsyihi ini? Untuk mengetahuinya kita perlu melihat ayat-ayat selanjutnya dalam kitab beliau ini, khususnya ayat 161:

Dan Dia SWT berada di atas***  singgasana, mengawasi ciptaanNya, mendominasi mereka, dekat dengan mereka, dan hal-hal selain itu dari makna-makna rububiyyahNya.

Berikut ini teksnya:

aqidah-wasitiyah-161

Dapat dengan jelas kita lihat beliau menuliskan فوق العرش fawqal ‘arsyi, maksudnya Allah itu di atas singgasanaNya namun bukan berarti singgasana itu menjadi tempat berpijakNya apalagi menampungNya. Mahasuci Allah dari sifat yang demikian. Allah berada tinggi di luar segenap ciptaannya, termasuk ‘arsy atau singgasanaNya sekalipun.

Menurut Ibnu Taymiyyah, inilah pendapat para salafus shalih. Penjelasan beliau ini selaras dengan konsistensi ucapan Ust. Abduh Tuasikal yang menyatakan bahwa Allah di atas langit, bukan di dalam langit itu sendiri sebab mustahil ada makhluk yang dapat “ditempati” oleh Allah betapapun besarnya makhluk tersebut.

Baik yang menyatakan “Allah ada di (atas) langit” maupun “Allah ada tanpa tempat” sebenarnya memiliki maksud yang sama, yaitu menyucikan Allah dari segenap penyerupaan terhadap makhluk. Makhluk Allah mulai dari partikel subatomik sampai sidratul muntaha semuanya tertampung di dalam langit dengan tujuh lapisannya sedangkan Allah berada di atas itu semua, menurut salafi seperti Ust. Tuasikal dan mungkin juga Ust. Yazid, Ust. Subhan, dan kawan-kawan. Dengan kata lain, keberadaan Allah berada di luar jangkauan persepsi kita tentang ruang (alias tempat) dan waktu. Para habaib dan pengikut mereka lebih senang membahasakan hal ini dengan pernyataan “Allah ada tanpa tempat”.

Semoga dapat mendamaikan kita semua menjelang Ramadhan tahun ini. Semoga Allah istiqamahkan kita semua dalam kebaikan. Semoga Allah sampaikan umur kita semua untuk dapat menikmati curahan ampunan Allah di bulan Ramadhan yang datang di akhir zaman menjelang hari kiamat ini.

Amin Allahuma amin.

NB: Tulisan ini adalah sarana latihan saya dalam memahami literatur bahasa Arab. Sebagaimana judulnya, ini telaah saja, tidak lebih. Wallahul musta’anu wa huwa a’lamu bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: