MEXT Teacher Training 2017: The Hard Way #001

(Dalam seri tulisan kali ini, saya menggunakan kata ganti “saya” dan bukan “aku” sebagaimana dalam tulisan-tulisan sebelumnya karena seri ini lebih teknis ketimbang emosional. Hehehe.)

Kali ini saya ingin bercerita tentang pilihan jurusan yang saya cantumkan di formulir beasiswa MEXT teacher training tempo hari.

Awalnya, secara berturut-turut saya memilih: (1) Pendidikan Kimia di Universitas Hiroshima, (2) Pendidikan Kimia di Universitas Gifu, dan (3) Pendidikan Kimia di Universitas Pendidikan Joetsu. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa jurusan yang kita pilih tidak harus linear dengan latar belakang pendidikan. Sah-sah saja bila tadinya, sebagai contoh, adalah sarjana pendidikan Bahasa Jepang namun di formulir pilihan jurusan ini yang dipilih adalah jurusan manajemen pendidikan. Tidak masalah.

Saya memilih linear di pendidikan kimia karena: (1) kimia itu menantang tapi (2) sekiranya level tantangan ini jauh di atas yang saya duga, setidaknya saya sudah punya cukup bekal pengetahuan dan keterampilan dasar kimia untuk mengejar ketertinggalan saya, dan (3) riwayat pelatihan, pekerjaan, dan publikasi yang saya cantumkan di formulir curriculum vitae memang lebih dekat ke pendidikan kimia daripada ke jurusan lainnya.

Nah, ketika kemudian kami diharuskan kembali mengisi formulir curriculum vitae berdasarkan informasi terbaru dan pilihan jurusan berdasarkan daftar pilihan dari MEXT yang sudah termutakhirkan, saya mendapati bahwa Universitas Gifu tidak lagi menawarkan teacher training pendidikan kimia. Saya pun harus memilih satu universitas lagi untuk menggantikan pilihan nomor (2) ini.

Setelah kembali membaca daftar pilihan baru dengan seksama, saya pun menjatuhkan pilihan pada tiga jurusan berikut secara berurutan: (1) Pendidikan Kimia Universitas Hiroshima (sama dengan yang di atas), (2) Pendidikan Kimia Universitas Okayama, dan (3) Pendidikan Kimia Universitas Pendidikan Joetsu.

Sejak awal menyusun rencana riset dan memilih jurusan, saya memang sudah menggali inspirasi dari dokumen panduan yang tersedia di website Kedubes Jepang. Dari hasil membaca-baca deskripsi sejumlah jurusan terkait kimia, saya pun menyimpulkan bahwa pilihan topik riset yang paling masuk akal dan paling memungkinkan saya untuk lolos seleksi adalah topik “handmade instrument“.

Mengapa saya memilih topik ini? Ada beberapa alasan.

Pertama, relevansi “handmade instrument” bagi latar belakang geografis dan profesi saya sangat tinggi. Di Samarinda, instrumen analitik kimia sangat sukar untuk diusahakan. Selain karena jauh dari supplier, SDM pengelolanya juga minim. Pihak sekolah mungkin saja punya cukup uang untuk membeli instrumen, namun siapa yang bisa jamin bahwa instrumen itu akan awet dipakai bertahun-tahun setelah dibeli?

Kedua, “handmade instrument” adalah keyword publikasi yang… (aduh, ini gimana bahasa Indonesianya?) shared among the professors who would possibly become my supervisor. Jadi begini… Waktu saya cek Sensei K apakah beliau punya publikasi tentang handmade instrument, oh ternyata ada. Cek lagi Sensei L, ada juga. Cek lagi Sensei M, ada juga. Nah, berarti topik ini relevan juga bagi mereka. Bahkan, salah satu di antara mereka mencantumkan keyword ini dalam deskripsi course mereka. (Aduh, mohon maaf ini banyak cetak miringnya.)

Ketiga, saya hobi main LEGO dan sesekali pemrograman. Topik handmade instrument ini bisa jadi alasan bagi saya untuk terus main LEGO dan belajar pemrograman. Sebab, sebelumnya saya sudah sering menemukan artikel riset yang menggunakan LEGO sebagai sarana pembelajaran. Selain itu, tren open-source sudah merambah dunia hardware dengan hadirnya Raspberry Pi dan Arduino; jadi tidak hanya terbatas pada software saja. Sebagai pengguna Linux puritan (nggak pake Windows-Windowsan kecuali terpaksa, hehehe) saya pengen dong untuk bisa terus berinteraksi dengan apapun yang berbau open-source, apalagi selama pakai Linux saya sudah “dipaksa” belajar pemrograman sedikit-sedikit. Alangkah baiknya jika selama di Jepang nanti, lewat bantuan beasiswa teacher training ini, saya bisa melakukan penelitian yang melibatkan LEGO dan pemrograman microcontroller sederhana. Dengan mempertimbangkan hal ini, semakin kuatlah niatan saya untuk mencari rumusan penelitian seputar handmade instrument.

Omong-omong, jika pembaca sekalian cukup jeli, ada hal menarik dari pilihan jurusan saya di atas, yaitu fakta bahwa jurusan yang tadinya luput dari perhatian saya, yaitu Pendidikan Kimia Universitas Okayama, sekarang justru menjadi tempat di mana saya menimba ilmu lewat bantuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Monbukagakusho) Jepang.

Kalau diingat-ingat lagi, hal ini semakin meyakinkan saya bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana. Bayangkan saja, sekiranya Universitas Gifu tetap membuka teacher training jurusan Kimia, mungkin sampai akhir saya akan tetap bertahan pada tiga pilihan itu dan bukan tidak mungkin saya justru gagal mendapatkan beasiswa ini karena ternyata Sensei yang bersedia menampung saya justru berada di Okayama. Alhamdulillah, jurusan Kimia teacher training Gifu Daigaku tidak ditawarkan untuk periode 2017. Saya pun “terpaksa” cari yang lain dan ternyata yang lain inilah yang justru menjadi pintu sampainya saya di Jepang hari ini.

Jadi, memilih jurusan untuk seleksi beasiswa MEXT ini boleh dibilang part science, part art. Sainsnya adalah bagaimana kita menemukan topik riset yang akan menguatkan profil kita di mata para penyeleksi, baik itu di level Kedubes, Kementerian, maupun universitas. Seninya adalah bagaimana kita menyerahkan nasib kita sepenuhnya kepada Dzat yang Maha Menggenggam takdir segenap makhluk dengan kebijaksanaan dan kekuasaan mahaparipurna.

NB: Tulisan berikutnya dari seri ini insya Allah akan membahas bagaimana cara mengisi formulir beasiswa MEXT dengan bahasa Jepang meskipun Anda tidak mengerti bahasa Jepang, seperti saya waktu itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: