Meet Manjaro Linux 0.8.5

Sudah lama banget saya nggak ngeblog. Kali ini saya lagi kepengen ngebahas sesuatu yang agak techie, yaitu distro Linux. Apa itu distro? Apa itu Linux? Liat di Wikipedia aja, ya.

Setelah Mandriva pensiun dari kancah open source, saya berusaha mencari alternatif lain. Sebenarnya sudah ada Mageia yang sudah cukup matang dan populer meskipun terhitung baru. OpenMandriva juga sedang digarap oleh tim developer Mandriva yang masih tersisa setelah peristiwa “eksodus” yang dilancarkan sebagian besar developer-nya untuk mendirikan Mageia. Akan tetapi, saya sudah cukup puas bermain dengan distro-distro yang memanjakan user seperti Mandriva, Fedora, apalagi Ubuntu. Saya pengen distro yang lebih greget.

Akhirnya saya nemu Arch Linux. Sebenarnya sudah lama sih saya tau Arch Linux ini, tapi… Saya urung mencobanya karena instalasinya terlalu ribet. Tolong digarisbawahi: instalasi, belum konfigurasi apalagi kustomisasi. Arch Linux, sebagaimana Gentoo, memang terkenal akan instalasinya yang murni text-based. Dulu ketika ada Arch Installation Framework (AIF), half-newbie user macam saya masih agak terbantu  dan mungkin Arch tidaklah semenyeramkan sekarang. Tapi kini dengan dihapusnya AIF dari paket ISO instalasi Arch, sepertinya developer Arch memang sengaja membuat garis batas yang tebal dan jelas antara advanced user yang layak menggunakan Arch dan user-user lainnya yang belum layak disebut advanced.

Walau bagaimanapun, fleksibilitas Arch tetap menarik minat saya. Saya sudah kepincut dengan filosofi Arch dan siklus rolling release-nya. Yang saya tidak sanggup hadapi adalah betapa saya harus membangun OS saya benar-benar dari awal, termasuk driver-driver-nya sekalipun. Padahal kita tahu sendiri bahwa hardware support adalah hal krusial dari sebuah OS yang semestinya, dengan kecanggihan teknologi masa kini, sudah tidak perlu dibebankan kepada user yang ingin komputernya at least punya OS dulu. Masalah nanti setelah punya OS ternyata ada masalah atau bagaimana ya itu hal lumrah di Linux dan dunia per-OS-an pada umumnya. At the very least, OS harus bisa menangani hubungan baiknya sendiri dengan hardware yang akan ia tempati. Tidak semua harus didiktekan oleh user.

Celah antara saya dan Arch inilah yang kemudian ditalangi oleh Manjaro, sebuah distro baru berbasis Arch yang menekankan pada aspek kestabilan dan keramahan terhadap user dalam segala hal. Untuk lebih jelasnya tentang visi dan misi tim developer Manjaro, silakan langsung kunjungi situs resminya di sini: http://manjaro.org/.

Saya pun memutuskan to give Manjaro a shot. Saya jatuhkan pilihan pada Manjaro 0.8.5 Net Edition karena bisa diinstal secara offline tanpa tambahan aplikasi front-end apapun. Hasil instalasinya hanya sekedar cukup untuk masuk ke virtual terminal (tty) dan login ke sistem. Setelah login, sudah tugas user untuk menginstal aplikasi-aplikasi penting yang ia butuhkan.

Singkat cerita, saya berhasil menginstal, mengkonfigurasi, dan mengkustomisasi Manjaro 0.8.5 di VMware saya. Cerita panjang lebarnya nanti aja, ya. Ini nih screenshotnya:

Tampilan layar login SLiM

Tampilan layar login SLiM

Tampilan desktop Xfce dengan beberapa aplikasi yang sedang terbuka

Tampilan desktop Xfce dengan beberapa aplikasi yang sedang terbuka

Iklan

2 thoughts on “Meet Manjaro Linux 0.8.5

    • Kalo soal tampilan, ini semuanya pilihan custom saya, Mas. Soalnya saya nginstal yang versi Net Edition. Nggak ada software GUI bawaan. Bahkan Xorg server-nya pun harus nginstal sendiri. Hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s