Isra Mi’raj: An Impossible Journey

#########################################

Postingan ini adalah hasil kopas dari note saya di Facebook yang di-publish oleh sahabat saya, Danjiro Katsujima.

#########################################

Bismillahirrahmanirrahim.

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Isra’: 1)

Sebelum membaca lebih lanjut, ada baiknya Anda mengetahui apa yang saya ingin Anda ketahui dan tanggapi dari tulisan ini:

  1. Betapapun Anda mencoba merasionalkan peristiwa Mi’raj, tetap saja ia merupakan peristiwa yang mustahil bahkan bagi sebuah foton (partikel cahaya) sekalipun selama Anda masih memandang tujuh lapis langit sebagai… ng… tujuh lapis langit.
  2. Allah ‘azza wa jalla memiliki ilmu yang jauh lebih luas dan dalam daripada ilmu yang dapat ditampung dan disampaikan dalam bahasa Arab, betapapun indah dan teraturnya bahasa Arab itu. Dengan demikian, beberapa kata, khususnya yang terkait dengan peristiwa-peristiwa irrasional, tidak selalu bermakna apa adanya sebagaimana yang kita kenal selama ini.

Selanjutnya saya ingin berterima kasih kepada–sebut saja–Kastiyawan Aufa (bukan nama sebenarnya) yang telah melumuri benak saya dengan bahan bakar berisi interpretasi alternatif terhadap ayat-ayat Isra’ Mi’raj, Dark Pokerface (juga bukan nama sebenarnya) yang sengaja menyulut bahan bakar tersebut dengan link video Imagining the Tenth Dimension, dan Uzumaki Adhe (lagi-lagi bukan nama sebenarnya) yang meniupkan oksigen ke arah letupan-letupan interpretasi tersebut lewat pertanyaan-pertanyaannya seputar takdir.

Isra’

Mari kita awali dengan analisis terhadap ayat yang saya kutip di awal tulisan ini. Bagi orang Indonesia seperti kita yang hanya mengenal makna Al-Quran lewat terjemahannya, ayat di atas mungkin sudah tidak terlalu mengejutkan. Setiap tahun para da’i berulang-ulang mengutip ayat ini dengan fasihnya dalam setiap peringatan Isra’ Mi’raj. Ibarat sambal, ayat ini sudah kehilangan sensasi pedasnya terhadap lidah akal kita akibat intensitas eksposur yang demikian tinggi. Menyedihkan.

Sesekali kita perlu memaknai lagi ayat-ayat Al-Quran, khususnya yang kita kira telah kita pahami dengan sangat baik, dengan cara yang berbeda. Kali ini, mari kita lihat naskah asli dari ayat di atas.

QS Al-Isra (Bani Israil) ayat 1

QS Al-Isra (Bani Israil) ayat 1

Perhatikan bagian yang bergaris bawah warna merah. Asraa diterjemahkan sebagai memperjalankan dan laylan sebagai pada suatu malam. Bagi kita yang orang Indonesia ini, terjemahan dan teks aslinya cocok-cocok saja. Akan tetapi, jika kita mengecek makna asraa yang sebenarnya, maka akan kita temukan fakta yang cukup menarik.

Asraa berasal dari kata saraa yang berarti bepergian pada malam hari, sebuah kata kerja intransitif. Dengan demikian, asraa dengan sendirinya sudah bermakna memperjalankan pada malam hari. Lantas, mengapa pula diperlukan keterangan laylan, pada suatu malam? Bukankah ini akan membuat makna ayatnya menjadi “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada malam hari pada suatu malam dari Al-Masjid Al-Haram… dst.”? Janggal. Atau mungkin laylan di sini berfungsi menegaskan bahwa perjalanannya hanya berlangsung satu malam? Tidak mungkin. Sebab, laylan hanya bermakna pada malam hari atau pada suatu malam. Yang bermakna dalam satu malam adalah fii laylatin.

Apakah masih ada kemungkinan makna lain? Ada. Saraa ternyata tidak sekedar bermakna bepergian pada malam hari, ia juga bermakna mengalir, memancar atau menyebar. Melihat makna alternatif ini, saya langsung teringat pada double-slit experiment yang legendaris itu. Dalam eksperimen tersebut ditunjukkan bahwa partikel bergerak dalam garis lurus sedangkan gelombang merambat secara radial atau ke segala arah, dengan kata lain menyebar. Apakah ayat ini merupakan indikasi bahwa Rasulullah diperjalankan Allah pada malam itu dalam bentuk gelombang? Anda mungkin tidak akan mengiyakan jika hanya membaca analisis ini. Mari kita lihat salah satu riwayat shahih tentang Isra’ Mi’raj yang direkam oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya Bab IV No. 429:

Shahih Bukhari Bab IV No. 429

Shahih Bukhari Bab IV No. 429

Malik ibn Sha’sha’ah ra. meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Ketika aku di al-Bait (yaitu Baitullah atau Ka’bah) antara tidur dan terjaga, (seorang malaikat mengenaliku) sebagai seorang lelaki di antara dua orang lelaki. “Lalu didatangkan kepadaku bejana dari emas yang dipenuhi dengan kebijaksanaan dan keimanan. Kemudian aku dibedah dari tenggorokan hingga perut bagian bawah. Lalu perutku dibasuh dengan air Zamzam, kemudian diisi dengan kebijaksanaan dan keimanan. Al-Buraq, binatang putih yang lebih kecil dari bagal dan lebih besar dari keledai, didatangkan kepadaku dan akupun berangkat bersama Jibril hingga kami mendatangi langit dunia (langit terdekat)…”

Jibril adalah makhluk yang tercipta dari cahaya. Ada banyak indikasi dalam Al-Quran yang menyebutkan bahwa malaikat bergerak dengan kecepatan cahaya. Pada dasarnya, cahaya adalah zat yang bertingkah ganda, sebagai partikel ataupun gelombang. Jadi, penggunaan istilah asraa dalam ayat di atas bisa jadi berfungsi bukan untuk menunjukkan bahwa Rasulullah diperjalankan pada malam hari, sebab sudah ada keterangan laylan, tetapi untuk menunjukkan bahwa beliau “dipancarkan” bersama Jibril dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha.

Mi’raj

Lalu, bagaimana dengan perjalanan Rasulullah dari al-Masjid al-Aqsha ke Sidrat al-Muntaha? Mungkinkah juga ditempuh dalam kecepatan cahaya?

Dalam kutipan hadits lain dengan informasi serupa dari Malik ibn Sha’sha’ah yang juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Bab V No. 227, di atas, diceritakan bahwa Rasulullah diberangkatkan bersama Jibril hingga mencapai as-Sama’ ad-Dunya, langit dunia atau bisa juga bermakna langit terdekat. Dunya adalah bentuk feminin dari kata adna, lebih dekat atau terdekat (bahasa Arab memiliki bentuk komparatif dan superlatif yang sama—pen.). Selama ini kita cenderung memaknai as-Sama’ ad-Dunya sebagai langit dunia. Dengan demikian, perjalanan Mi’raj Rasulullah terkesan sebagai perjalanan naik ke langit hingga mencapai ujung langit dunia, kemudian dibukakan gerbangnya, berlanjut naik lagi ke langit kedua, dibukakan gerbangnya pula, kemudian lanjut lagi seperti itu hingga ke langit ketujuh.

Jika interpretasi Mi’raj kita seperti ini, mungkinkah ia ditempuh kurang dari semalam?

Alam semesta kita luar biasa luas. Jarak antargalaksi saja bisa memakan jutaan tahun cahaya. Cahaya saja butuh waktu jutaan tahun untuk bepergian dari satu galaksi ke galaksi lain. Jika kita memaknai as-Sama’ ad-Dunya sebagai langit dunia kita sekarang, maka dibutuhkan setidaknya 46 milyar tahun bagi Rasulullah bersama Jibril untuk menembus wilayah langit dunia yang teramati dari bumi. Itu baru yang teramati, belum yang tak teramati dari bumi. Kalau begini caranya, bagaimana mungkin beliau bisa menembus langit dunia, langit kedua, terus sampai langit ketujuh dalam tempo kurang dari semalam? Mustahil!

Tapi, buktinya bisa! Setidaknya, kita telah didoktrin, tanpa kesempatan bertanya, untuk meyakini bahwa Isra’ Mi’raj bukanlah perjalanan mustahil. Kalau memang Isra’ Mi’raj tidak mustahil, tidak bolehkah kita mencari alternatif penjelasan yang akan menjawab teka-teki Isra’ Mi’raj ini? Bukankah orang berakal dalam pandangan Allah adalah orang yang senantiasa bertafakkur akan tanda-tanda kekuasaan Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring?

Selama kita masih memaknai as-Sama’ ad-Dunya sebagai langit dunia, selama itu pula Isra’ Mi’raj akan jadi hal yang mustahil. Namun ketika kita memaknai frase tersebut sebagai langit terdekat, terbukalah kemungkinan lain yang mungkin akan membantu kita untuk maju selangkah lebih dekat kepada hakikat Isra’ Mi’raj.

Seiring kemajuan teknologi, pandangan dunia ilmiah terhadap alam semesta pun semakin canggih. Dahulu kita memandang dunia kita sebagai dunia tiga dimensi. Objek satu dimensi adalah garis, objek dua dimensi adalah bidang, dan objek tiga dimensi adalah apapun yang memiliki panjang, lebar, dan kedalaman. Kemudian, Einstein muncul dengan gagasan bahwa kita sesungguhnya hidup dalam dunia empat dimensi, tiga dimensi ruang ditambah satu dimensi waktu. Perkembangan gagasan dimensional ini terus berlanjut hingga muncul hipotesis tenth dimension, sebuah level dimensi yang mencakup segala alam semesta dengan segala probabilitas takdirnya.

Dalam dunia tiga dimensi yang kita tinggali saat ini, cahaya memang butuh waktu milyaran tahun untuk menembus wilayah langit yang teramati. Akan tetapi, bukan tidak mungkin bahwa cahaya akan butuh waktu yang jauh lebih singkat untuk melakukan lompatan antardimensi. Ilustrasinya begini.

Semut di atas koran yang datar. Jarak dari satu tepi ke tepi lainnya akan tampak sangat jauh bagi semut.

Semut dan Dunia Dua-Dimensinya

Anggap saja koran itu adalah dunia dua dimensi dan si semut adalah penghuninya. Dalam dunia dua dimensi dan pergerakan intradimensinya, si semut harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai ke tujuannya. Dia harus menghabiskan, katakanlah, 20 detik.

Namun ketika dunia dua dimensi si semut kecil kita lipat membentuk sebuah dunia tiga dimensi, si semut dapat menempuh jalur alternatif untuk mencapai tujuannya, yaitu dengan melakukan pergerakan interdimensi. Si semut dapat sampai lebih cepat ke sebuah titik dalam dunia dua dimensinya dengan cara bergerak melalui dunia tiga dimensi ke titik yang dimaksud. Ketika bergerak secara interdimensi, si semut hanya butuh waktu sekitar 2 detik untuk sampai ke tujuannya; sepuluh kali lebih cepat dibandingkan ketika ia bergerak secara intradimensi.

Koran (dunia dua-dimensi) tempat si semut tinggal kini mulai terlipat (lebih tepatnya tergulung) secara tiga-dimensi

Sekarang dunia dua-dimensi si semut mulai terlipat/tergulung secara tiga-dimensi.

Sekarang koran sudah tergulung sempurna di mana tepi yang satu telah bertemu tepi lainnya. Jarak antartepi makin tak berarti.

Sekarang dunia dua-dimensi semut sudah tergulung sempurna. Dalam dunia dua-dimensi yang terlipat secara tiga-dimensi, jarak antartepi jadi tak berarti.

Yang terjadi dalam Isra’ Mi’raj mungkin kurang lebih seperti ini. Bedanya, Rasulullah dan Jibril bergerak secara interdimensi bukan untuk mencapai sebuah titik dalam dimensi yang sama, melainkan untuk naik ke dimensi yang lebih tinggi. Jika Rasulullah hidup dalam dunia tiga dimensi seperti yang sekarang kita tinggali, maka as-Sama’ ad-Dunya, dimensi-atas terdekat, yang dimaksud kemungkinan adalah dunia empat dimensi. As-Sama’ ats-Tsaniyah adalah dunia lima dimensi. As-Sama’ ats-Tsalitsah adalah dunia enam dimensi. As-Sama’ ar-Rabi’ah adalah dunia tujuh dimensi. As-Sama’ al-Khamisah adalah dunia delapan dimensi. As-Sama’ as-Sadisah adalah dunia sembilan dimensi. Terakhir, as-Sama’ as-Sabi’ah adalah dunia sepuluh dimensi.

Jika kita memaknai Isra’ Mi’raj sebagai perjalanan yang bukan hanya berkecepatan cahaya tetapi juga dilakukan secara interdimensi, maka Isra’ Mi’raj menjadi peristiwa yang bukan sekedar rasional tetapi juga semakin mengagumkan karena melibatkan implementasi sebuah konsep yang baru terjelaskan secara hipotetis oleh ilmu pengetahuan setelah kira-kira 14 abad sejak peristiwa agung itu terjadi.

Wa-llahu a’lamu bish-shawab. 

Inspirasi tafsir asraa & laylan:

  • Al-Mawrid: Arabic-English Dictionary
  • Hans-Wehr Dictionary of Modern Arabic Usage

Inspirasi tafsir as-Sama’ ad-Dunya sampai as-Sama’ as-Sabi’ah:

Iklan

2 thoughts on “Isra Mi’raj: An Impossible Journey

  1. kalo misalkan menurut anda isra mi’raj ada sesuatu yg musatahil karena kalo melihat ilmu ilmiyah itu tidak mungkin rasul sampai langit ke 7 / sampai ke sidramuntaha… dalam satu malam…

    saya mau bertanya,.. ?
    1. dmnakah Allah menaru nyawa anda di dalam titik tubuh anda ?
    2. kapankah Allah meniupkan ruh kedalam tubuh anda,..?
    3. pada waktu malam atau siangkah Allah meniupkan ruh kedalam tubuh anda…?
    4. Kamu nyangka gk bisa hidup didunia ini….?

    coba terangkan…4 pertanyaaan yg saya tanyakan di atas…

    namanya kekuasaan Allah jangan diitung lewat ilmiyah atau logika… karena itu akan membuat km tersesat…..
    kekuasaan Allah itu Ghoib,.. apa apa yg mungkin tidak bisa diterjemahkan oleh logika itu pun akan terjadi kalo Allah berkehendak… Kun Fayakun…
    .

    • Jangan buru-buru buruk sangka dulu, Mas. Coba dibaca lagi kalimat saya baik-baik.

      “Betapapun Anda mencoba merasionalkan peristiwa Mi’raj, tetap saja ia merupakan peristiwa yang mustahil bahkan bagi sebuah foton (partikel cahaya) sekalipun SELAMA ANDA MASIH MEMANDANG TUJUH LAPIS LANGIT SEBAGAI TUJUH LAPIS LANGIT.”

      Saya tidak menyangkal kebenaran peristiwa Isra Mi’raj. Bahkan, saya meyakininya terlepas dari mampu-tidaknya sains menjelaskan peristiwa ini. Silakan lihat poin kedua saya dalam pengantar tulisan di atas.

      Kembali ke poin satu di atas. Sekali lagi, saya tidak menyangkal bahwa Isra Mi’raj telah terjadi. Yang saya coba lakukan di sini adalah meluruskan salah kaprah kita selama ini tentang langit. Mayoritas kita selama ini memahami langit yang tujuh itu sebagai TUJUH LAPIS LANGIT SEOLAH-OLAH PEMISAH ANTARLANGIT TERSEBUT ADALAH RUANG (SPACE).

      Bagi saya, SELAMA kita masih memahami langit yang tujuh itu sebagai LAPISAN-LAPISAN LANGIT, selama itu pula Isra Mi’raj menjadi peristiwa yang mustahil. Kenapa? Foton saja butuh waktu jutaan tahun untuk sampai ke tepi LANGIT PERTAMA, apalagi makhluk sekompleks Rasulullah. Mustahil Rasulullah bisa bolak-balik bumi-sidratul muntaha KALAU KITA MEMANDANG PERGERAKAN RASULULLAH SAAT ITU SEBAGAI PERGERAKAN VERTIKAL SPASIAL DARI SATU LAPIS LANGIT KE LAPISAN LANGIT LAINNYA.

      Faktanya, peristiwa itu telah terjadi. Maka, besar kemungkinan bahwa PERISTIWA MI’RAJ BUKANLAH PERISTIWA PERGERAKAN VERTIKAL SPASIAL. Ini lho, Mas, yang saya coba kaji dalam tulisan ini, BUKAN MENGGUGAT KEBENARAN PERISTIWA ISRA MI’RAJ SEBAGAIMANA YANG ANDA BURUK-SANGKAKAN! Tolong tulisan saya dibaca lagi baik-baik.

      Kembali ke topik. Karena penjelasan paradoksikal “pergerakan vertikal spasial dari satu lapis ke lapis berikutnya” sudah tidak bisa dipakai untuk merasionalisasi peristiwa Isra Mi’raj, maka di tulisan ini saya menawarkan alternatif lain yang lebih rasional untuk menjelaskan peristiwa tersebut. Penjelasan tersebut adalah bahwa Rasulullah mengalami perpindahan bukan secara spasial tapi secara interdimensional. Lihat?? Saya tidak sedang meyakinkan para pembaca bahwa Isra Mi’raj itu mustahil. Saya justru sedang berusaha MEYAKINKAN PARA PEMBACA BAHWA ISRA MI’RAJ TELAH BERLANGSUNG DALAM KERANGKA HUKUM ALLAH YANG DAPAT TERJELASKAN DARI SUDUT PANDANG SAINTIFIK. Yang saya koreksi itu salah kaprahnya orang-orang seperti Anda, Mas, BUKAN PERISTIWA ISRA MI’RAJ-NYA SENDIRI.

      Saya mohon maaf kalau penjelasan saya agak sedikit pedas. Maafkan keengganan saya memilih diksi yang lebih lembut. Kalau Anda tidak suka, silakan damaikan hati Anda dengan pergi dari sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s